Skip to content
Breaking News

Viral Dugaan Pungli di Taman Kalijodo, Warga Ungkap Tarif Rp 2.000 Saat Malam Minggu

Viral 3 minutes read 1 view

Ilustrasi taman kota pada malam hari dengan panggung musik, lampu, dan pos jaga di gerbang masuk
Ilustrasi: suasana taman kota saat ada acara musik pada malam hari.

Taman Kalijodo di Penjaringan, Jakarta Utara, ramai diperbincangkan setelah dugaan pungutan liar terhadap pengunjung beredar di media sosial. Saat lokasi itu didatangi pada Rabu (4/11/2026) sore, warga sekitar membenarkan adanya biaya masuk, tetapi menyebut pungutan tersebut hanya berlaku pada waktu tertentu.

Pos Jaga Kosong, Taman Tampak Terawat

Berdasarkan pantauan Kompas.com, kondisi taman secara umum masih terawat dan sejumlah fasilitasnya utuh. Beberapa warga terlihat beraktivitas di area taman pada sore hari.

Di dekat pintu masuk berdiri sebuah pos jaga yang disebut sebagai tempat penukaran karcis kendaraan pada hari-hari tertentu. Namun, sore itu tidak ada petugas yang berjaga. Pos serupa di pintu belakang taman juga kosong.

Rp 2.000 per Orang Saat Malam Minggu

Seorang warga bernama Lia menuturkan, pengunjung dewasa yang masuk lewat akses belakang dikenai biaya Rp 2.000 per orang pada malam Minggu. Anak-anak tidak ditarik biaya. Menurut Lia, pungutan itu muncul ketika ada acara hiburan rakyat dengan pertunjukan musik di kawasan taman.

Pada hari lain, kata dia, pengunjung bisa masuk tanpa membayar. “Kalau malam yang lain gratis. Khusus satu malam itu doang, malam Minggu,” ujar Lia.

Lia mengaku tidak terlalu mempersoalkan biaya itu karena ia biasanya datang pada sore hari. Ia justru baru tahu taman tersebut viral setelah melihatnya di media sosial.

Keterangan senada disampaikan warga lain, Murni. Ia menyebut pengunjung yang masuk dari pintu belakang tidak membayar pada hari biasa, tetapi dikenai Rp 2.000 saat ada acara musik malam Minggu. Menurut Murni, pada malam-malam itu biasanya ada penjagaan di sekitar akses masuk.

Warga Minta Taman Dibuat Lebih Hidup

Terlepas dari polemik pungutan, Lia menilai kondisi Taman Kalijodo sekarang jauh lebih baik dibandingkan masa lalu. Hanya saja, taman itu terasa sepi karena minim wahana bermain anak dan kegiatan yang bisa menarik pengunjung.

Ia berharap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menambah fasilitas permainan anak dan lebih sering menggelar acara, termasuk kegiatan yang melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Menurutnya, pedagang ikut merugi saat taman sepi, karena pada pagi hari pengunjung hanya segelintir orang yang berolahraga.

Pengakuan itu sejalan dengan cerita Endah, pedagang di kawasan tersebut. Ia menyebut taman benar-benar ramai hanya pada malam Minggu ketika ada panggung musik, dan pada saat itulah warung-warung di sekitarnya kebanjiran pembeli.

Pengelola dan Sengketa Lahan

Ketua RW 05 Kelurahan Pejagalan, Jiunk, enggan berkomentar banyak soal dugaan pungli. Ia menyarankan agar pertanyaan itu disampaikan langsung kepada pihak yang disebutnya mengelola taman, yakni seseorang bernama Daenk Aziz.

Jiunk juga menyinggung adanya sengketa lahan yang membuat kawasan itu hingga kini masih dikuasai pihak tersebut. “Jadi selama masih ada sengketa itu, ya mau gimana,” ucapnya.

Keterangan warga ini setidaknya memberi gambaran bahwa pungutan yang ramai dibicarakan di media sosial tidak berlaku setiap hari. Meski begitu, pertanyaan soal dasar penarikan biaya dan ke mana uang tersebut mengalir masih belum terjawab, terutama karena taman ini dikenal sebagai ruang publik yang bisa dinikmati warga secara cuma-cuma.

Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan dari pihak pengelola yang disebut warga maupun dari Pemprov DKI Jakarta terkait dugaan pungutan tersebut.

Sumber: Kompas.com

Share
Avatar of Muhammad Saputra
Written by