Harga minyak mentah dunia kembali menanjak pada perdagangan Rabu (28/10/2026). Pemicunya adalah klaim serangan terhadap kilang minyak di Arab Saudi, negara pengekspor minyak mentah terbesar dunia, yang memunculkan lagi kekhawatiran pasar soal gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Mengutip laporan Reuters yang dimuat CNBC, kontrak berjangka Brent naik 1,48 dollar AS atau 1,3 persen ke level 115,36 dollar AS per barel pada pukul 01.40 GMT (08.40 WIB). Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 1,22 dollar AS atau 1,22 persen menjadi 101,12 dollar AS per barel.
Penguatan sempat berlanjut hingga siang hari. Laporan Reuters yang dikutip Daily Sabah mencatat Brent naik 2,02 dollar AS atau 1,8 persen ke 115,90 dollar AS per barel pada pukul 07.35 GMT (14.35 WIB), sedangkan WTI bertambah 2,01 dollar AS atau 2 persen ke 101,91 dollar AS per barel.
Laporan IUX24 pada Rabu sore WIB juga mencatat Brent masih bertahan di zona hijau, naik sekitar 1,2 persen ke kisaran 115,19 dollar AS per barel.
Houthi Klaim Hantam Kilang Terbesar Saudi
Kelompok Houthi di Yaman yang berafiliasi dengan Iran menyatakan pada Selasa (27/10/2026) bahwa mereka telah menyerang kilang minyak terbesar Arab Saudi dengan rudal. Kilang tersebut memiliki kapasitas 550.000 barel per hari.
Klaim itu menandai meningkatnya intensitas serangan Houthi terhadap Arab Saudi, produsen minyak mentah terbesar kedua di dunia. Namun, otoritas Saudi belum segera mengonfirmasi terjadinya serangan tersebut.
Menurut IUX24, insiden ini membuat pelaku pasar menghitung ulang premi risiko geopolitik yang melekat pada harga minyak, seiring memanasnya ketegangan di negara pengekspor utama itu.
Berbalik Arah Setelah Sempat Melemah
Kenaikan harga pada Rabu terjadi setelah minyak sempat turun hampir 2 dollar AS pada perdagangan Selasa. Saat itu, pembicaraan di kawasan Timur Tengah sempat meredakan kekhawatiran soal pasokan.
Penguatan ini juga berlangsung di tengah ekspektasi data persediaan minyak mentah Amerika Serikat. Jajak pendapat Reuters terhadap delapan analis memperkirakan stok minyak mentah AS naik tipis sekitar 15.000 barel pada pekan yang berakhir 23 Oktober. Di sisi lain, IUX24 menyebut penurunan persediaan minyak mentah AS turut menopang pergerakan harga.
OPEC+ Diperkirakan Tahan Target Produksi
Dari sisi produsen, negara-negara OPEC+ diperkirakan mempertahankan target produksi minyak untuk Desember dalam pertemuan pada Minggu mendatang. Hal itu disampaikan tiga sumber yang mengetahui persoalan tersebut kepada Reuters, sejalan dengan perkiraan pasar.
Reuters juga mencatat, produksi sebagian besar dari tujuh anggota inti OPEC+, yakni Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman, saat ini masih berada di bawah target produksi masing-masing.
Pasar Menanti Kejelasan Situasi
Dengan Brent bertahan di atas 115 dollar AS per barel, harga minyak masih berada di level tinggi. Arah pergerakan selanjutnya dinilai akan sangat bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah, konfirmasi resmi atas dampak serangan terhadap kilang Saudi, serta rilis data persediaan minyak AS.
Ahli strategi komoditas ING, seperti dikutip Reuters, menilai pasar masih memperhitungkan peluang eskalasi yang lebih besar. Menurut mereka, harga minyak tetap tinggi karena pasar menunggu kejelasan langkah Presiden AS Donald Trump selanjutnya terhadap Iran.
Bagi negara-negara pengimpor minyak, lonjakan harga akibat faktor geopolitik seperti ini kerap menjadi perhatian karena berpotensi menekan biaya energi dan inflasi. Pelaku pasar pun cenderung mencermati setiap kabar baru dari kawasan tersebut.
Sumber: IUX24, CNBC/Reuters, Daily Sabah
