Skip to content
Breaking News

Amadeus Dibobol, Data Penumpang JAL, ANA, dan Korean Air Diduga Terekspos

Teknologi 3 minutes read 13 views

Ilustrasi pesawat terbang di atas jaringan data digital dengan ikon gembok terbuka yang menandakan kebocoran data
Ilustrasi: kebocoran data pada sistem reservasi maskapai.

Insiden keamanan siber pada Amadeus, perusahaan teknologi perjalanan asal Spanyol yang menyediakan sistem reservasi bagi banyak maskapai, merembet ke sejumlah maskapai besar di Asia. Japan Airlines (JAL), Japan Transocean Air, All Nippon Airways (ANA), Korean Air, dan Asiana Airlines sudah mengonfirmasi adanya indikasi akses tidak sah terhadap data reservasi penumpang mereka.

Kabar ini pertama kali ramai setelah akun pemantau ancaman siber H4ckmanac membagikan informasinya di media sosial X. Setelah itu, maskapai satu per satu menyampaikan bahwa mereka telah menerima pemberitahuan dari Amadeus soal adanya akses eksternal ke sistem yang dikelola perusahaan tersebut.

JAL Sebut 92.000 Penumpang Berpotensi Terdampak

Japan Airlines menjadi maskapai yang paling rinci membuka data. Dalam pengumumannya pada 28 Oktober 2026, JAL menyebut menerima pemberitahuan dari Amadeus pada 23 Oktober. Maskapai ini memakai sistem Amadeus untuk mengelola reservasi, penerbitan tiket, hingga proses check-in.

Menurut JAL, sekitar 92.000 penumpang yang memesan penerbangan berkode JAL dan anak usahanya, Japan Transocean Air, berpotensi terdampak. Sebagian besar, sekitar 90.000 orang, kemungkinan hanya terekspos data dasar berupa kode reservasi, nama, tanggal penerbangan, rute, dan kelas layanan.

Untuk sekitar 2.000 penumpang sisanya, data yang mungkin ikut terakses jauh lebih lengkap. Isinya bisa mencakup alamat e-mail, nomor telepon, nomor paspor, kewarganegaraan, nomor anggota frequent flyer, nomor tiket, hingga nomor kursi yang sudah dipilih.

JAL menegaskan nomor kartu kredit dan kata sandi pelanggan tidak termasuk data yang terdampak. Maskapai juga mengaku belum menemukan tanda penyalahgunaan data untuk penipuan, dan operasional penerbangan tetap berjalan normal. Data yang berpotensi terakses berasal dari periode 10 Agustus 2023 hingga 23 September 2026. Rentang itu menggambarkan masa reservasi yang datanya mungkin terjangkau, bukan berarti peretas berada di dalam sistem sepanjang waktu tersebut.

ANA, Korean Air, dan Asiana Ikut Konfirmasi

ANA menyatakan pada 29 Oktober 2026 bahwa pihaknya juga telah menerima pemberitahuan dari Amadeus dan sedang bekerja sama menyelidiki cakupan insiden. Namun, hingga kini ANA belum mengumumkan berapa penumpang yang terdampak maupun jenis data yang mungkin terbuka.

Dua maskapai Korea Selatan, Korean Air dan Asiana Airlines, lebih dulu mengumumkan insiden serupa pada 23 Oktober 2026, tiga hari setelah mendapat kabar dari Amadeus pada 20 Oktober. Keduanya menyebut data yang terdampak meliputi nomor reservasi sebagian pelanggan.

Penyelidikan awal mengindikasikan akses ilegal itu dilakukan dengan memakai kredensial yang terkait akun sistem Amadeus. Korean Air dan Asiana mengaku belum menemukan bukti bahwa basis data internal mereka sendiri ikut dibobol.

Sampai saat ini belum ada angka gabungan jumlah korban di seluruh maskapai. Angka 92.000 penumpang yang beredar hanya berlaku untuk JAL dan Japan Transocean Air.

Risiko Rantai Pasok Teknologi

Kasus ini menunjukkan rapuhnya rantai pasok teknologi ketika banyak perusahaan bergantung pada satu penyedia layanan pihak ketiga. Dalam industri penerbangan, sistem reservasi, tiket, dan data penumpang umumnya ditangani vendor eksternal. Begitu satu vendor kebobolan, dampaknya bisa menjalar ke beberapa maskapai sekaligus.

Data yang terlihat sepele, seperti nama, kode booking, dan jadwal terbang, tetap bisa dimanfaatkan penjahat siber untuk menyusun pesan phishing yang meyakinkan. Risikonya membesar bila nomor telepon, e-mail, atau nomor paspor ikut bocor, karena pelaku bisa menyamar sebagai maskapai untuk memancing korban menyerahkan informasi lain.

Karena itu, JAL meminta penumpang mewaspadai e-mail, telepon, maupun situs palsu yang mengatasnamakan maskapai tersebut. JAL juga berjanji menghubungi pelanggan yang terdampak secara langsung.

Detail Teknis Belum Dibuka

Amadeus telah memberi tahu perusahaan-perusahaan terkait bahwa langkah pengamanan yang diperlukan sudah diterapkan. Meski begitu, perusahaan belum membuka secara lengkap detail teknis insiden, metode yang dipakai pelaku, maupun identitas pihak yang bertanggung jawab.

Bagi penumpang yang pernah memesan tiket dengan maskapai-maskapai tersebut, langkah paling aman adalah tidak mengeklik tautan atau membalas pesan mencurigakan yang mengaku dari maskapai, serta memverifikasi setiap informasi lewat kanal resmi.

Sumber: Kompas.com

Share
Avatar of Muhammad Saputra
Written by