Skip to content
Breaking News

Indonesia Pangkas Ekspor Gas ke Singapura 31 BBTUD, Industri Dalam Negeri Jadi Prioritas

Ekonomi 4 minutes read 36 views

Ilustrasi jaringan pipa gas bumi di kawasan industri dengan latar laut saat senja
Ilustrasi: jaringan pipa gas bumi yang menyalurkan pasokan energi untuk industri.

JAKARTA – Pemerintah Indonesia resmi memangkas volume gas bumi yang dialirkan ke Singapura sebanyak 31 miliar British thermal unit per hari (BBTUD) terhitung sejak Sabtu (24/10/2026). Langkah ini diambil untuk memberi ruang lebih besar bagi kebutuhan energi dan bahan baku industri di dalam negeri.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, menjelaskan bahwa pengurangan dilakukan pada dua jalur pasokan. Sebanyak 15 BBTUD dikurangi dari Natuna, sementara 16 BBTUD lainnya dari Sumatera.

Menurut Djoko, kebijakan tersebut hanya menyasar Singapura karena jaringan pipa ekspor yang bersangkutan memang tersambung ke negara itu. “Enggak ada (negara lain). Pipanya kan ke Singapura aja,” ujarnya, seperti dikutip dari Antara.

Evaluasi Porsi Ekspor 30 Persen

Pemangkasan ini sejalan dengan sikap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, yang sebelumnya membuka opsi untuk tidak memperpanjang kontrak ekspor gas ke negara tetangga. Bahlil menyebut pemerintah tengah meninjau ulang pemanfaatan gas agar lebih banyak terserap untuk konsumsi domestik, terutama bagi pengembangan hilirisasi petrokimia yang memakai gas sebagai bahan baku.

Selama ini, sekitar 30 persen produksi gas nasional dijual ke luar negeri, sedangkan 70 persen sisanya dipakai di dalam negeri. Komposisi itulah yang kini sedang dievaluasi pemerintah. Perlu dicatat, pengurangan 31 BBTUD yang sudah berjalan berbeda dengan rencana tidak memperpanjang kontrak ekspor yang akan berakhir.

Kalangan pengusaha menyambut baik arah kebijakan tersebut. Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Perindustrian, Saleh Husin, menilai pasokan gas yang cukup dan berkelanjutan diperlukan untuk menaikkan kapasitas produksi, menarik investasi, memperkuat daya saing manufaktur, sekaligus membuka lapangan kerja.

“Pemerintah menunjukkan keberpihakan dengan mengutamakan kebutuhan industri dalam negeri,” kata Saleh.

Dukungan serupa datang dari Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI). Industri keramik sangat bergantung pada gas untuk proses pembakaran bersuhu tinggi. Ketua Umum ASAKI, Edy Suyanto, menyebut kepastian pasokan dengan harga kompetitif akan mendorong utilisasi pabrik dan melanjutkan rencana ekspansi yang sempat tertahan. Ia juga berharap tambahan gas berdampak berantai ke sektor konstruksi, properti, transportasi, dan bahan baku. “Berikan kami gas, kami ciptakan multiplier effect dan dukung pertumbuhan ekonomi nasional,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI) Indonesia, Akhmad Ma’ruf Maulana, menegaskan kontrak yang masih berjalan tetap harus dihormati. Namun, setelah kontrak berakhir, pemerintah dinilai punya keleluasaan menata ulang prioritas. HKI mencatat realisasi pasokan gas dengan skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) di Jawa bagian barat baru sekitar 88 hingga 90 persen dari alokasi, sehingga menekan utilisasi industri seperti keramik, kaca, baja, petrokimia, oleokimia, serta makanan dan minuman.

Singapura Perkuat Infrastruktur Energi

Di seberang selat, gas alam memegang peran vital. Dalam keterangan tertulis pada Senin (26/10/2026), Energy Market Authority (EMA) Singapura menyebut gas alam memasok sekitar 95 persen kebutuhan listrik negara itu. Meski begitu, EMA menilai pengurangan dari Indonesia setara kurang dari 2 persen kebutuhan gas harian Singapura dan masih bisa ditutup dari sumber lain, termasuk gas alam cair (LNG). Importir Gas Supply mengakui ada pelanggan yang terdampak, sedangkan Perdana Menteri Lawrence Wong meminta semua pihak memenuhi komitmen kontrak komersial.

EMA memproyeksikan beban puncak listrik Singapura, yang mencapai 8,6 gigawatt (GW) pada Agustus 2026, bisa naik menjadi 9,9 GW hingga 13 GW pada 2031, terutama didorong pusat data, manufaktur semikonduktor, dan kendaraan listrik. Untuk mengantisipasinya, Singapura berencana mengoperasikan lima pembangkit gas baru pada 2026–2031 yang akan menambah kapasitas sekitar 26 persen dari posisi saat ini sekitar 12 GW.

Kapasitas regasifikasi LNG juga akan dinaikkan dari 10 juta menjadi 15 juta ton per tahun saat terminal LNG kedua di Jurong Port beroperasi pada 2030. Selain itu, Singapura menargetkan kapasitas tenaga surya tumbuh dari 2,3 gigawatt-peak (GWp) menjadi 3 GWp pada 2030 dan 4 GWp pada 2035, serta mengkaji interkoneksi listrik kedua dengan Semenanjung Malaysia berkapasitas hingga 2 GW.

Bagi Indonesia, keputusan soal alokasi gas berikutnya akan menentukan seberapa besar manfaat yang bisa dinikmati industri nasional, sekaligus nasib kelanjutan kontrak ekspor ke depan.

Sumber: Kompas.com

Share
Avatar of Muhammad Saputra
Written by