Bagi banyak perempuan, kehadiran ibu kandung menjadi penopang terpenting saat pertama kali merawat bayi. Namun, tidak semua ibu baru memilikinya, dan sebuah laporan global menunjukkan ketiadaan dukungan itu bisa berdampak serius pada kesehatan mental setelah melahirkan.
Laporan tahun 2025 yang disusun The Motherless Mothers (TMM) bersama aplikasi Peanut mencatat sekitar sepertiga ibu baru menjalani masa pascapersalinan tanpa dukungan ibu mereka. Penyebabnya beragam, mulai dari ibu yang telah meninggal, sakit berat, hingga hubungan keluarga yang renggang.
Angka yang Mengkhawatirkan
Survei tersebut melibatkan lebih dari 2.300 responden dari berbagai negara. Hasilnya, 81 persen responden mengaku mengalami gangguan kesehatan mental pascapersalinan, sekitar empat kali lipat dibanding rata-rata nasional Amerika Serikat yang berkisar 20 persen.
Laporan itu juga mencatat ibu baru di AS yang membesarkan anak tanpa sosok ibu memiliki risiko 5,4 kali lebih tinggi mengalami depresi pascapersalinan dibanding rata-rata nasional sebesar 12,5 persen.
Psikiater asal Miami, dr. Nona Kocher, menilai peran ibu sulit digantikan pada masa rentan ini. Menurut dia, seorang ibu biasanya memberi rasa nyaman yang khas ketika segala sesuatu terasa baru dan berat, seperti dikutip Kompas.com dari Parents.
Bukan Sekadar Kehilangan Bantuan Praktis
Terapis Kiana Shelton dari Mindpath Health menjelaskan, ketiadaan figur ibu tidak hanya berarti kurang tenaga untuk membantu urusan rumah. Yang hilang adalah pijakan emosional yang memberi rasa normal di tengah ketidakpastian selama kehamilan dan setelah melahirkan. Kekosongan itu dapat memperbesar rasa terasing dan cemas, bahkan memicu depresi perinatal.
Situasinya pun berbeda-beda. Data riset yang dikutip dalam laporan menyebut sekitar enam persen orang dewasa terasing dari ibu kandungnya. Konselor Geralyn Fortney dari Thriveworks menyebut keterasingan semacam ini membawa beban tersendiri karena melibatkan pilihan, sehingga kerap memunculkan rasa bersalah dan malu.
Pada ibu yang orangtuanya sakit parah, duka antisipatif bisa muncul karena harus merawat orangtua sekaligus bayi. Sementara bagi yang ibunya telah tiada, kelahiran anak sering membuka kembali duka lama.
Tenaga Kesehatan Jarang Bertanya
Masalahnya, banyak ibu baru enggan meminta tolong. Survei yang sama mencatat 74 persen penyedia layanan kesehatan tidak pernah menanyakan apakah pasiennya mendapat dukungan dari ibu kandung.
Karena itu, ibu baru dianjurkan aktif menyampaikan kondisi emosionalnya kepada tenaga medis. Psikiater dr. Catherine M. Cunningham dari Hackensack Meridian Ocean University Medical Center menegaskan bahwa pemeriksaan dan pengobatan depresi perinatal aman serta efektif, dan meminta bantuan bukan tanda kelemahan.
Membangun Lingkar Dukungan Sendiri
Bila ibu kandung tidak bisa hadir, para ahli menyarankan perempuan membentuk sistem dukungan alternatif. Tujuannya bukan menggantikan peran ibu, melainkan memastikan kebutuhan emosional tetap terpenuhi. Dukungan bisa datang dari sahabat, doula, figur yang lebih senior, atau kelompok sesama ibu baru. Terapi dan komunitas pendukung juga dapat membantu mengurangi rasa sepi.
Psikolog Emily Guarnotta dari Phoenix Health mengingatkan pentingnya welas asih terhadap diri sendiri. Menurut dia, kesedihan menjadi ibu tanpa kehadiran ibu jarang diakui, sehingga memberi diri sendiri validasi dan kasih sayang bisa sangat berarti.
Langkah sederhananya antara lain berbicara lembut kepada diri sendiri, mengakui rasa lelah, memberi waktu tubuh untuk beristirahat, dan menerima bahwa duka dan bahagia bisa hadir bersamaan. Jika gejala sedih, cemas, atau putus asa terus berlanjut, segera konsultasikan dengan dokter atau psikolog.
Sumber: Kompas.com
