PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) memilih jalur yang lebih aman untuk tetap melayani pelanggan di Timur Tengah. Alih-alih menembus Selat Hormuz yang rawan konflik, emiten pelayaran ini kini mengandalkan pelabuhan di sisi timur Uni Emirat Arab (UEA), sehingga kapalnya tidak perlu melintasi selat tersebut maupun singgah di Jebel Ali, Dubai.
Strategi itu disampaikan Direktur Utama Samudera Indonesia, Bani Maulana Mulia, dalam paparan secara virtual pada Jumat (30/10/2026). Menurut dia, perseroan tidak mau mengambil risiko operasional berlebihan, meskipun tarif angkutan di jalur tersebut bisa lebih mahal. “Kami tidak mengambil risiko yang tinggi tersebut untuk melewati Selat Hormuz,” ujarnya, seperti dikutip Kompas.com.
Sempat Berhenti, Kini Beroperasi dengan Rute Baru
Sebelumnya, SMDR sempat menghentikan sejumlah layanan di kawasan Timur Tengah akibat konflik. Layanan itu kemudian dijalankan kembali dengan penyesuaian jalur pelayaran. Dalam menentukan rute, perusahaan menimbang tiga hal utama, yakni biaya, asuransi, dan keselamatan.
Pilihan ini menunjukkan bahwa peluang tarif tinggi tidak otomatis membuat perusahaan mengambil rute paling berisiko. Bagi SMDR, kelangsungan layanan dan keamanan armada lebih diutamakan ketimbang mengejar margin tambahan dari jalur yang sedang bergejolak.
Kinerja Hingga September Lampaui Rencana
Di tengah ketidakpastian geopolitik dan naiknya harga bahan bakar kapal (bunker fuel), Bani menilai industri pelayaran masih tangguh. Ia menyebut dinamika global sepanjang 2026 belum menekan permintaan jasa pelayaran secara berarti. Bahkan, kinerja perseroan hingga September 2026 disebut lebih baik dibandingkan rencana awal perusahaan.
Menurut Bani, volume angkutan tetap terjaga walau industri diwarnai berbagai gangguan. Tingginya permintaan jasa angkutan serta tren kenaikan tarif pelayaran menjadi penopang utama bisnis perseroan.
Biaya Bahan Bakar Naik, Diimbangi Bunker Surcharge
Bani mengakui kenaikan harga bahan bakar kapal menambah beban operasional. Namun, perusahaan masih mampu mengendalikannya lewat pengelolaan biaya dan penerapan bunker surcharge, yaitu biaya tambahan bahan bakar yang dibebankan kepada pelanggan. Menurut dia, langkah itu tidak memengaruhi permintaan.
Permintaan kapasitas angkut kapal saat ini bahkan masih tinggi. SMDR disebut membutuhkan tambahan armada karena belum semua permintaan pasar dapat dilayani dengan kapasitas kapal yang ada. Kondisi itu sejalan dengan tren naiknya tarif angkutan internasional dan intra-Asia.
Meski begitu, Bani menegaskan kenaikan tarif pada indeks pasar tidak serta-merta berdampak sama terhadap seluruh kontrak perseroan. Ketika tren tarif naik, perusahaan biasanya ikut merasakan dampak positif, tetapi pengelolaan biaya tetap harus dijaga.
Kongesti Pelabuhan Jadi Sinyal Permintaan Kuat
Tingginya aktivitas perdagangan juga memicu kemacetan atau kongesti di sejumlah pelabuhan dunia, termasuk di Indonesia. Bani melihat kondisi ini sebagai tanda bahwa permintaan jasa logistik dan pelayaran masih kuat, karena lonjakan permintaan tidak selalu diimbangi kapasitas dan kelancaran operasional pelabuhan.
Situasi tersebut turut menopang tarif layanan pelayaran. Bani menyebut permintaan yang tinggi mendorong kenaikan freight rate maupun tarif layanan lainnya, sehingga memberi optimisme terhadap potensi pasar ke depan.
Diversifikasi Pasar ke Berbagai Benua
Untuk memperkuat bisnis, SMDR menjalankan strategi diversifikasi pasar internasional. Saat ini perusahaan memiliki jaringan operasional di 28 negara, melayani hampir 59 pelabuhan, dan mengoperasikan sekitar 40 layanan berkala.
Perseroan juga memperluas layanan ke Eropa, Amerika Latin, Asia Timur, dan Timur Tengah. Kendati demikian, pasar utama di Indonesia dan Asia Tenggara tetap dipertahankan karena masih memberikan kontribusi besar terhadap bisnis perusahaan.
Dengan kombinasi rute yang lebih aman, pengelolaan biaya bahan bakar, dan perluasan jaringan, SMDR berupaya menjaga layanan tetap berjalan di tengah situasi geopolitik yang belum sepenuhnya stabil.
Sumber: Kompas.com
