Bursa saham Amerika Serikat ditutup beragam pada perdagangan Selasa (3/11/2026) waktu setempat, bertepatan dengan hari pemungutan suara pemilu sela AS. Saham-saham chip kembali diburu setelah tertekan beberapa hari terakhir, sementara harga minyak dunia melemah ke level terendah dalam hampir empat pekan.
Indeks Nasdaq Composite naik 0,83 persen ke 25.372,01. Indeks S&P 500 menguat 0,36 persen ke 7.568,92 sekaligus memutus rentetan pelemahan tiga hari. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average turun 197,26 poin atau 0,38 persen ke 51.786,72.
Saham Chip Bangkit, Apple Membebani Dow
Penguatan Nasdaq ditopang kembalinya minat investor pada saham teknologi. Menurut laporan CNBC, saham Advanced Micro Devices (AMD) naik lebih dari 3 persen menjelang rilis laporan keuangan kuartal III setelah penutupan pasar, Broadcom naik 3 persen, sedangkan Micron Technology dan Nvidia masing-masing menguat lebih dari 2 persen. Sektor teknologi informasi menjadi pendorong utama S&P 500 pada hari itu.
Meski demikian, Nasdaq-100 yang naik 0,7 persen ke 28.180,26 masih berada di wilayah koreksi, sekitar 10 persen di bawah puncaknya. Pergerakan Selasa juga membalik pelemahan sehari sebelumnya, ketika Nasdaq turun lebih dari 1 persen.
Dow Jones tertahan oleh saham Apple yang turun hampir 2 persen. Produsen iPhone itu merilis proyeksi margin yang dinilai mengecewakan pada Senin malam, sementara penjualan iPad pada kuartal IV tahun fiskalnya di bawah perkiraan analis.
Pasar Menanti Hasil Pemilu Sela
Investor juga mencermati pemilu sela yang akan menentukan partai pengendali DPR dan Senat AS mulai Januari. CNBC mencatat para pelaku pasar prediksi melihat peluang hampir 75 persen bagi Partai Demokrat untuk menguasai Senat.
Mengutip pandangan JPMorgan, CNBC menyebut kemenangan besar Demokrat di kedua kamar dapat menekan pasar pada Rabu, terutama saham terkait kecerdasan buatan (AI), bila investor belum mengantisipasinya. Sebaliknya, bila Partai Republik mempertahankan Senat atau kedua kamar, pasar berpeluang menguat dalam jangka pendek.
Ahli strategi ekonomi Potomac Fund Management, Shawn Snyder, menilai pasar bisa saja bergerak naik setelah pemilu apa pun hasilnya, karena perdagangan saham AI sudah terkoreksi dan ketidakpastian politik akan mereda.
Minyak Terendah Sejak Awal Oktober
Di pasar komoditas, harga minyak Brent turun 1,17 dollar AS atau sekitar 1,1 persen ke 103,60 dollar AS per barel, penutupan terendah sejak 7 Oktober. Minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 37 sen ke 96,09 dollar AS per barel, terendah sejak 14 Oktober.
Reuters melaporkan pasar menimbang peluang pembicaraan damai untuk mengakhiri perang di Ukraina dan Iran, di tengah kekhawatiran serangan terbaru dapat kembali mengganggu pasokan. Qatar, yang menjadi mediator, menyebut AS dan Iran tetap berkomitmen pada upaya mediasi, meski seorang pejabat senior Iran mengatakan kedua negara masih jauh dari kesepakatan. Kremlin juga mengonfirmasi pembicaraan damai tiga pihak antara Rusia, Ukraina, dan AS di Abu Dhabi pada 10–11 November.
Bank ING dalam catatannya menilai masih terlalu dini menganggap risiko eskalasi sudah berlalu. Namun, menurut ING, sinyal kemajuan yang kuat dalam perundingan damai akan membuka ruang penurunan harga lebih lanjut.
Pelaku pasar kini menunggu hasil penghitungan suara pemilu sela serta data persediaan minyak mingguan AS dari American Petroleum Institute dan Badan Informasi Energi AS (EIA).
Artikel ini disusun sebagai informasi dan bukan saran investasi.
Sumber: IUX24, IUX24, CNBC, dan Reuters via Yahoo Finance
