Skip to content
Breaking News

Wall Street Melemah, Saham Alphabet Anjlok 12 Persen Picu Kekhawatiran Belanja AI

Ekonomi 3 minutes read 17 views

Ilustrasi grafik saham dengan garis merah menurun dan chip komputer bercahaya di latar biru gelap
Ilustrasi: grafik saham teknologi yang melemah di bursa.

Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan Kamis (29/10/2026) waktu setempat. Penyebab utamanya adalah kejatuhan tajam saham Alphabet, induk usaha Google, yang kembali memicu kekhawatiran investor soal besarnya belanja perusahaan teknologi untuk kecerdasan buatan (AI). Tekanan itu terjadi meski data terbaru menunjukkan ekonomi AS tumbuh lebih cepat dari perkiraan.

Tiga Indeks Utama Kompak Turun

Indeks S&P 500 turun 0,3 persen ke level 7.720,39 dan mengakhiri tren penguatan tiga hari beruntun. Nasdaq Composite, yang dihuni banyak saham teknologi, merosot lebih dalam sebesar 1,38 persen ke 26.184,72. Adapun Dow Jones Industrial Average kehilangan 132,54 poin atau 0,25 persen ke posisi 52.342,56.

Menariknya, menurut Associated Press, sebagian besar saham di dalam indeks S&P 500 justru naik pada hari itu. Namun bobot Alphabet yang sangat besar membuat penurunannya cukup untuk menyeret indeks secara keseluruhan. Sektor layanan komunikasi dan teknologi menjadi yang paling tertekan, sedangkan sektor kesehatan memimpin penguatan.

Alphabet Catat Penurunan Bersejarah

Saham Alphabet kelas A ditutup di 283,82 dollar AS, anjlok sekitar 12,6 persen dalam sehari. AP menyebutnya sebagai penurunan bersejarah. Laporan kuartal ketiga perusahaan yang dirilis Rabu malam menunjukkan pendapatan dan laba per saham di bawah ekspektasi analis.

Sorotan lain tertuju pada arus kas bebas Alphabet yang negatif sebesar 9,07 miliar dollar AS. Di saat yang sama, perusahaan mempertahankan proyeksi belanja modal setahun penuh di kisaran 195 miliar hingga 205 miliar dollar AS. Kombinasi ini membuat pelaku pasar mempertanyakan kapan investasi jumbo di infrastruktur AI akan membuahkan hasil.

Saham lain juga ikut tertekan. Caterpillar jatuh lebih dari 9 persen, penurunan harian terburuknya sejak Maret 2020, karena penjualan di bisnis konstruksinya sedikit di bawah perkiraan. Microsoft ditutup sedikit melemah setelah sempat menguat di awal sesi.

Ekonomi AS Tumbuh 3,4 Persen, Inflasi Ikut Naik

Di sisi makro, ekonomi AS tumbuh 3,4 persen pada kuartal ketiga, melampaui konsensus 3,1 persen. Namun tekanan harga juga meningkat. Indeks harga belanja konsumsi pribadi (PCE) naik 0,5 persen pada September, sehingga inflasi tahunan berada di level 3,6 persen.

Data ini muncul sehari setelah bank sentral AS, The Federal Reserve, memutuskan menahan suku bunga pada Rabu. Imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) bergerak turun setelah rangkaian data dan keputusan tersebut.

Eropa Justru Menguat Usai ECB Menahan Bunga

Berbeda dengan Wall Street, bursa Eropa menutup hari di zona hijau. Indeks STOXX 600 naik 0,77 persen ke 649,11, level tertinggi sejak 8 September, ditopang laporan keuangan emiten yang solid.

Bank Sentral Eropa (ECB) mempertahankan suku bunga deposito di 2,5 persen setelah menaikkannya 25 basis poin pada September. Inflasi zona euro tercatat 3,8 persen, tertinggi sejak September 2023, terutama akibat lonjakan harga energi. Pasar uang memperkirakan peluang sekitar 67 persen untuk kenaikan suku bunga pada Desember.

Pada hari yang sama, Presiden ECB Christine Lagarde mengumumkan akan mundur lebih cepat dari jadwal dan meninggalkan jabatannya pada 7 Februari.

Musim Laporan Keuangan Jadi Penentu

Musim laporan keuangan kuartal ketiga di AS sudah melewati separuh jalan. Reuters mencatat, dari 253 perusahaan S&P 500 yang telah melapor, 81 persen membukukan hasil di atas ekspektasi analis. Meski begitu, reaksi tajam terhadap Alphabet menunjukkan pasar kini lebih selektif dalam menilai perusahaan yang menggelontorkan dana besar untuk AI.

Artikel ini bersifat informasi dan bukan saran investasi.

Sumber: IUX24, CNBC, Associated Press, Reuters, dan CNBC (ECB)

Share
Avatar of Muhammad Saputra
Written by