Skip to content
Breaking News

OPEC+ Sepakat Tahan Target Produksi Minyak Desember, Perubahan Kebijakan Ditunda ke 2027

Ekonomi 3 minutes read 19 views

Ilustrasi kilang minyak dan pompa angguk di gurun saat matahari terbenam dengan tangki penyimpanan
Ilustrasi: produksi minyak mentah di kawasan Teluk.

Kelompok produsen minyak OPEC+ disebut telah sepakat secara prinsip untuk mempertahankan target produksi minyak mentah pada Desember 2026. Keputusan itu dijadwalkan dikukuhkan dalam pertemuan daring pada Minggu (1/11/2026), sekaligus menegaskan perkiraan pasar bahwa perubahan kebijakan produksi yang lebih besar baru akan terjadi tahun depan.

Kesepakatan Jelang Pertemuan Daring

Informasi tersebut pertama kali dilaporkan kantor berita Reuters pada Sabtu (31/10/2026) waktu setempat, mengutip tiga orang yang mengetahui pembahasan. Ketiganya meminta identitasnya tidak disebutkan. Platform berita pasar IUX24 dan CNBC kemudian turut memberitakan kabar yang sama.

Pertemuan hari Minggu itu melibatkan tujuh anggota inti OPEC+, yakni Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman. OPEC+ sendiri merupakan gabungan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dengan sejumlah produsen sekutu, termasuk Rusia.

Produksi Teluk Masih di Bawah Kuota

Keputusan menahan target datang ketika negara-negara anggota di kawasan Teluk tengah berupaya memulihkan ekspor yang terganggu selama berbulan-bulan akibat perang dengan Iran. Meski ekspor mulai digenjot, sebagian besar produsen tersebut dilaporkan masih memompa minyak jauh di bawah target produksi yang sudah ditetapkan.

Artinya, target produksi yang ada saat ini belum sepenuhnya terpakai. Dalam kondisi seperti itu, menaikkan atau menurunkan kuota dinilai tidak banyak berpengaruh terhadap pasokan riil dalam jangka pendek.

Apa Itu Target Produksi OPEC+?

Target produksi adalah batas jumlah minyak mentah yang boleh dipompa setiap anggota per hari sesuai kesepakatan kelompok. Melalui pengaturan kuota inilah OPEC+ berusaha memengaruhi keseimbangan pasokan dan permintaan minyak dunia. Ketika kuota dinaikkan, pasokan berpotensi bertambah. Sebaliknya, pemangkasan kuota dimaksudkan untuk menahan pasokan. Karena itu, setiap keputusan bulanan kelompok ini selalu dipantau pelaku pasar energi global, termasuk saat hasilnya hanya berupa perpanjangan target lama.

Fokus Beralih ke Kuota 2027

Pada September lalu, OPEC+ menuntaskan pengembalian bertahap pemangkasan pasokan sebesar 1,65 juta barel per hari yang pertama kali disepakati pada 2023. Namun, kelompok ini masih menyisakan satu lapis pemangkasan lain sekitar 2 juta barel per hari yang berlaku bagi sebagian besar anggota hingga akhir 2026.

Reuters sebelumnya melaporkan pada Juli bahwa OPEC+ kemungkinan tidak akan mengubah target sepanjang kuartal IV karena perhatian kelompok tersebut beralih ke negosiasi kuota 2027.

Menurut sumber-sumber yang dikutip Reuters, OPEC+ perlu menuntaskan peninjauan kapasitas produksi setiap anggota pada kuartal keempat ini. Hasil peninjauan tersebut akan menjadi dasar penetapan baseline atau angka acuan produksi 2027, yang menentukan besaran kuota masing-masing negara sekaligus rencana pelonggaran pemangkasan yang tersisa. IUX24 menyebut proses negosiasi baseline itu sebagai pembahasan yang rumit.

Sesuai Ekspektasi Pasar

Bagi pelaku pasar, keputusan ini bukan kejutan. Perpanjangan target lama sudah banyak diperkirakan, sehingga perhatian kini lebih tertuju pada dua hal: seberapa cepat produsen Teluk memulihkan produksinya dan bagaimana hasil tawar-menawar kuota untuk tahun depan.

Hasil resmi pertemuan biasanya diumumkan melalui pernyataan OPEC setelah rapat selesai. Hingga berita ini ditulis, rincian keputusan final belum dirilis secara resmi.

Artikel ini disusun sebagai informasi dan bukan saran investasi.

Sumber: IUX24, CNBC/Reuters

Share
Avatar of Muhammad Saputra
Written by