Skip to content
Breaking News

Pertalite Eceran Tembus Rp 100.000 per Botol di Sumba Barat Daya, Warga Terjepit Antrean SPBU

Sosial 3 minutes read 14 views

Ilustrasi antrean panjang sepeda motor dan mobil di SPBU dengan botol bensin eceran di pinggir jalan
Ilustrasi: antrean BBM di SPBU dan bensin eceran dalam botol.

Warga Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), harus merogoh kocek jauh lebih dalam untuk mendapatkan bahan bakar. Di tingkat pengecer, Pertalite dilaporkan dijual hingga Rp 100.000 untuk satu botol air mineral berukuran 1,5 liter, padahal harga resminya di SPBU Rp 10.000 per liter.

Lonjakan harga eceran itu muncul di tengah antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di wilayah tersebut. Warga yang tidak sanggup ikut mengantre akhirnya memilih membeli dari penjual eceran, meski harganya berlipat-lipat.

Antrean Panjang Mendorong Warga ke Pengecer

Ferdy, salah seorang warga Sumba Barat Daya, menuturkan kepada Kompas.com bahwa antrean di SPBU begitu panjang sehingga ia tidak bisa menunggu giliran. Ia lalu membeli bensin dari warga yang lebih dulu mengisi di SPBU dan menjualnya kembali. Menurut dia, harga yang dipatok para pengecer bervariasi, mulai sekitar Rp 80.000 hingga Rp 100.000 per botol.

Ferdy juga menyebut ada dugaan bahwa sebagian antrean di SPBU diisi oleh pengecer yang membeli BBM bersubsidi untuk dijual lagi. Akibatnya, warga biasa makin sulit memperoleh Pertalite langsung dari SPBU.

Harga yang tinggi membuat sebagian warga terpaksa mengakali pembelian. Ada yang hanya membeli senilai Rp 20.000, dan untuk nominal itu takaran yang didapat bahkan tidak sampai setengah liter.

Harga Sempat Turun, Penyebabnya Belum Jelas bagi Warga

Warga lain, Getrudis, mengaku sempat membeli sebotol Pertalite seharga Rp 100.000 dua hari sebelumnya. Pada malam sebelum ia diwawancarai, harga di pengecer sudah turun menjadi sekitar Rp 50.000 per botol.

Ia tidak tahu pasti mengapa harga eceran mendadak melambung. Getrudis bercerita bahwa pada hari Minggu bensin bahkan sama sekali tidak tersedia. “Kami juga kurang paham kenapa tiba-tiba mahal,” ujarnya, seperti dikutip Kompas.com. Hingga Kamis (29/10/2026), antrean di sejumlah SPBU di Sumba Barat Daya disebut masih cukup padat.

Pemkab Klaim Sudah Menertibkan

Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Wulla, menyatakan pemerintah daerah sudah menertibkan penjualan BBM dengan harga tinggi tersebut. Saat dihubungi, ia hanya memberi jawaban singkat bahwa persoalan itu sudah ditangani.

Selain penertiban, pemerintah daerah memberlakukan batas pembelian. Pertamax dan Pertalite dibatasi maksimal 5 liter untuk kendaraan roda dua dan 15 liter untuk kendaraan roda empat.

Pertamina Perketat Pengawasan Pembelian Berulang

Dari pihak Pertamina, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengatakan antrean di SPBU Sumba Barat Daya menjadi perhatian perusahaan. Pertamina, kata dia, terus mengoptimalkan pengelolaan pasokan dan penyaluran BBM sesuai kebutuhan masyarakat.

Bersama pemerintah daerah dan aparat penegak hukum, Pertamina Patra Niaga juga meningkatkan pengawasan terhadap pembelian berulang yang terindikasi sebagai pelangsiran, yakni praktik membeli BBM bersubsidi berkali-kali untuk dijual kembali. Langkah ini dimaksudkan agar penyaluran tepat sasaran.

Di sisi pelayanan, Pertamina berkoordinasi dengan pengelola SPBU dan menurunkan petugas untuk membantu mengatur antrean. Ahad mengimbau warga membeli BBM sesuai kebutuhan, tertib saat mengantre, dan mengikuti informasi dari sumber resmi.

Dampak bagi Warga

Situasi ini menunjukkan betapa rentannya warga di daerah ketika pasokan dan distribusi BBM tersendat. Selisih antara harga resmi Rp 10.000 per liter dan harga eceran yang bisa mencapai Rp 100.000 per 1,5 liter berarti warga membayar beberapa kali lipat lebih mahal untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari bepergian hingga bekerja.

Pembatasan pembelian dan pengawasan terhadap pelangsir diharapkan bisa memangkas antrean sekaligus menekan harga di tingkat pengecer. Warga kini menunggu agar pasokan di SPBU kembali lancar sehingga mereka tidak lagi bergantung pada penjual eceran.

Sumber: Kompas.com

Share
Avatar of Muhammad Saputra
Written by