Skip to content
Breaking News

IATA: Permintaan Penerbangan Global Turun 0,5 Persen, Timur Tengah Paling Terpukul

Bisnis 3 minutes read 7 views

Ilustrasi pesawat terbang di atas awan dengan grafik batang menurun di latar belakang
Ilustrasi: pesawat terbang dan grafik permintaan penerbangan yang menurun.

Industri penerbangan dunia belum benar-benar lepas landas. Data terbaru Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) menunjukkan jumlah perjalanan udara global pada September 2026 justru menyusut 0,5 persen dibandingkan September 2025, terseret pelemahan di kawasan Timur Tengah dan Amerika Utara.

Angka itu dirilis IATA pada 30 Oktober 2026. Kontraksinya memang sedikit lebih ringan dibandingkan Agustus 2026 yang turun 0,8 persen secara tahunan, tetapi tetap menandakan permintaan penumpang masih tertahan di tengah ketidakpastian geopolitik dan harga bahan bakar pesawat yang naik turun.

Indikator Utama Kompak Melemah

IATA mengukur permintaan penumpang melalui revenue passenger kilometers (RPK), yaitu jumlah penumpang dikalikan jarak terbang. Indikator inilah yang turun 0,5 persen. Di sisi pasokan, kapasitas yang dihitung dengan available seat kilometers (ASK) juga berkurang 0,2 persen.

Karena penumpang berkurang lebih cepat daripada kursi, tingkat keterisian kursi atau passenger load factor (PLF) global turun 0,3 poin persentase menjadi 83,2 persen.

Kepala Ekonom IATA Marie Owens Thomsen menyebut pola serupa sudah berulang hampir sepanjang tahun ini. Menurut dia, angka September tetap lebih baik dibandingkan Agustus karena sebagian besar pasar internasional kembali tumbuh.

Rute Internasional Tumbuh, Domestik Tertekan

Di balik angka global yang negatif, penerbangan internasional sebenarnya masih naik 0,4 persen dengan kapasitas bertambah 0,5 persen. Jika kawasan Timur Tengah dikeluarkan dari hitungan, pertumbuhan permintaan internasional bahkan mencapai 1,7 persen.

Tekanan terbesar justru datang dari pasar domestik. Permintaan penerbangan dalam negeri secara global turun 2,2 persen, kapasitasnya menyusut 1,3 persen, dan tingkat keterisian kursi melemah menjadi 82,5 persen.

India menjadi pasar domestik dengan penurunan paling tajam, yakni 8,3 persen, sekaligus yang terdalam bagi negara itu sepanjang 2026. Amerika Serikat turun 2,7 persen, sedangkan Jepang turun 0,8 persen karena gangguan cuaca saat libur panjang Silver Week. Sebaliknya, pasar domestik Australia tumbuh 4,5 persen, China 3,1 persen, dan Brasil 2 persen.

Timur Tengah Paling Terpukul

Secara regional, maskapai Timur Tengah mencatat kinerja terburuk. Permintaan mereka anjlok 8 persen secara tahunan, sementara kapasitas dipangkas 3,8 persen. Tingkat keterisian kursinya merosot 3,6 poin persentase menjadi 78,2 persen.

Rute Timur Tengah–Asia menjadi yang paling lesu dengan penurunan 8,8 persen, lebih dalam dari kontraksi 7,9 persen pada Agustus. Adapun rute Timur Tengah–Amerika Utara turun 3 persen, sedikit membaik dibandingkan bulan sebelumnya.

Maskapai Amerika Utara juga mencatat penurunan permintaan 1,6 persen dengan kapasitas berkurang 1,3 persen.

Kawasan lain masih bergerak positif. Afrika memimpin dengan pertumbuhan 5 persen, disusul Amerika Latin dan Karibia sebesar 4,3 persen. Asia Pasifik naik 0,5 persen dengan tingkat keterisian kursi 83,4 persen, sedangkan Eropa tumbuh 0,3 persen dan mencatat keterisian tertinggi, yaitu 86,6 persen.

Kapasitas Diproyeksikan Tetap Naik, tetapi Timpang

Meski permintaan melemah, IATA memperkirakan kapasitas kursi penerbangan terjadwal global masih berada di atas level 2025 dalam dua bulan berikutnya, yakni naik 0,6 persen pada Oktober dan 1,5 persen pada November 2026.

Thomsen mengingatkan pertumbuhan itu masih lemah dan sangat tidak merata antarkawasan. Timur Tengah, misalnya, diproyeksikan tetap di bawah level tahun lalu dengan kapasitas turun 9,9 persen pada Oktober dan 8,5 persen pada November.

Bagi maskapai, kombinasi permintaan yang lesu dan biaya avtur yang fluktuatif membuat pengelolaan kapasitas menjadi kunci. Selama ketegangan geopolitik belum mereda, IATA menilai kedua faktor tersebut akan terus membayangi arah pemulihan industri penerbangan global.

Sumber: Kompas.com

Share
Avatar of Muhammad Saputra
Written by