Bursa saham Amerika Serikat ditutup melonjak tajam pada perdagangan Rabu (4/11/2026) waktu setempat. Kemenangan Partai Demokrat yang merebut kendali kedua kamar Kongres dalam pemilu sela AS justru disambut investor dengan aksi beli, sementara harga minyak dunia terjun lebih dari 8 persen.
Dow Jones Catat Hari Terbaik Sejak April 2025
Indeks Dow Jones Industrial Average melesat 1.569,40 poin atau 3,03 persen ke level 53.356,12. Menurut CNBC, ini merupakan kenaikan harian terbesar Dow sejak 9 April 2025 sekaligus pertama kalinya indeks tersebut kembali di atas 53.000 sejak 8 September.
Indeks S&P 500 naik 1,58 persen ke 7.688,62, yang oleh Associated Press (AP) disebut sebagai hari terbaiknya dalam tiga bulan. Adapun Nasdaq Composite menguat 1,44 persen ke 25.736,51.
Penguatan ini terjadi setelah kontrak berjangka Nasdaq sempat jatuh hingga 2,5 persen pada Selasa malam ketika kabar kemenangan Demokrat mulai beredar, seperti dicatat kolumnis Reuters.
Kepastian Politik dan Harapan “Gridlock”
Pelaku pasar menilai hasil pemilu yang tegas, ditambah sikap Presiden Donald Trump yang menerima hasilnya, menghapus ketidakpastian politik yang selama ini membayangi Wall Street. Dengan Demokrat menguasai DPR dan Senat, pemerintahan AS kini terbelah, kondisi yang secara historis kerap dianggap positif bagi pasar karena meredam gejolak kebijakan.
AP juga mencatat bahwa saham umumnya cenderung bergerak baik dalam beberapa bulan setelah pemilu sela, siapa pun pemenangnya. Saham pengelola rumah sakit dan jaringan toko diskon termasuk yang memimpin reli.
Meski begitu, kenaikan tidak merata. Data sektor yang dikutip Reuters menunjukkan sembilan dari sebelas sektor S&P 500 menguat, dengan sektor barang konsumsi nonprimer naik sekitar 4,2 persen. Sebaliknya, sektor energi turun sekitar 4,8 persen, sementara saham pusat data dan pertahanan ikut melemah.
Minyak Anjlok, Pasar Taksir Peluang Akhir Perang Iran
Tekanan terbesar datang dari pasar minyak. Harga minyak Brent turun 8,7 persen dan ditutup di 94,62 dollar AS per barel, level penutupan terendah sejak 31 Agustus, menurut IUX24. Minyak mentah AS jenis WTI juga merosot lebih dari 8 persen.
Investor bertaruh bahwa perubahan peta kekuasaan di Washington akan mempercepat berakhirnya perang AS dengan Iran. CNBC melaporkan, Wakil Presiden JD Vance menyebut perang tersebut sebagai penyebab kekalahan Partai Republik.
“Akan ada tekanan yang lebih besar lagi untuk mengakhiri perang,” kata Peter Boockvar, kepala investasi One Point BFG Wealth Partners, kepada CNBC.
Menurut Reuters, Brent sudah turun hampir 20 persen sepanjang pekan ini, sehingga berpeluang mencatat penurunan mingguan terbesar sejak April 2020.
Emas Melonjak, Dollar Melemah
Di pasar lain, dollar AS melemah ke level terendah sejak 30 September. Pelemahan dollar mendorong harga emas naik sekitar 3,5 persen dan kembali di atas 4.000 dollar AS per ons, kenaikan harian terbaik sejak Agustus, berdasarkan laporan Reuters dan IUX24.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS turun 3 hingga 7 basis poin di berbagai tenor, sementara bursa Eropa ditutup menguat sekitar 1,8 persen. Mata uang negara berkembang juga ikut menguat seiring melemahnya dollar.
Yang Dipantau Pasar Berikutnya
Setelah reli besar ini, perhatian investor beralih ke rilis data pasar tenaga kerja AS untuk membaca arah suku bunga. Turunnya harga minyak diperkirakan dapat meredam tekanan inflasi, meski sejumlah analis mengingatkan bahwa ketidakpastian kebijakan masih belum sepenuhnya hilang.
