Skip to content
Breaking News

Binance Diduga Diretas, Penarikan Dihentikan Sementara dan Estimasi Kerugian Capai Miliaran Dollar

Teknologi 3 minutes read 14 views

Ilustrasi koin kripto bercahaya di depan gembok digital yang retak dengan latar jaringan data gelap
Ilustrasi: keamanan aset kripto yang terancam peretasan.

Binance, bursa aset kripto terbesar di dunia, tengah menyelidiki dugaan insiden keamanan yang dilaporkan terjadi pada Kamis (29/10/2026). Sebagai langkah pencegahan, perusahaan menghentikan sementara layanan penarikan dana di sejumlah jaringan, sementara estimasi nilai aset yang raib beredar hingga miliaran dollar AS.

Hingga kini Binance belum mengonfirmasi berapa aset yang diduga dicuri, apa penyebabnya, maupun apakah aktivitas mencurigakan itu masih berlangsung. Juru bicara perusahaan menegaskan bahwa dana pengguna tetap aman.

Binance: Sedang Diselidiki Aktif

Dalam pernyataan tertulis kepada TechCrunch, Binance menyebut pihaknya mengetahui laporan soal potensi masalah keamanan dan “sedang menyelidikinya secara aktif”.

Perusahaan juga mengingatkan pengguna agar waspada terhadap penipuan yang kerap muncul saat insiden semacam ini. Pengguna diminta tidak memercayai tautan, pesan, ataupun permintaan data akun yang tidak berasal dari kanal resmi Binance.

Estimasi Kerugian Masih Simpang Siur

Dugaan peretasan pertama kali mencuat setelah sejumlah pengamat kripto menemukan pergerakan janggal pada dompet digital milik Binance. Menurut perkiraan para pengamat, setidaknya 2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 36,26 triliun telah keluar dari hot wallet bursa tersebut.

Hot wallet adalah dompet kripto yang tersambung ke internet. Dompet jenis ini dipakai agar aset bisa diakses dan dipindahkan dengan cepat, misalnya untuk melayani penarikan pengguna, sehingga lebih rentan dibandingkan penyimpanan yang terputus dari jaringan.

Estimasi lain bahkan menyebut potensi kerugian bisa menembus 5,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 103,34 triliun. Namun, angka tersebut belum terverifikasi dan Binance belum mengumumkan total aset yang hilang.

Berpotensi Jadi Peretasan Kripto Terbesar

Apabila kerugian miliaran dollar AS itu terbukti, kasus ini berpeluang tercatat sebagai salah satu peretasan kripto terbesar sepanjang sejarah. Dalam daftar pencurian aset kripto yang dihimpun situs Rekt, salah satu insiden terbesar sebelumnya menimpa bursa Bybit pada 2025.

Kala itu, Bybit dilaporkan kehilangan aset senilai sekitar 1,4 miliar dollar AS atau kurang lebih Rp 25,38 triliun dalam satu kali serangan. Peretasan tersebut dikaitkan dengan kelompok peretas asal Korea Utara.

Tether dan Circle Bekukan Dana Terkait

Insiden di Binance juga mendorong dua penerbit stablecoin besar, Tether dan Circle, membekukan sejumlah dana yang diduga berkaitan dengan kejadian ini. Tujuannya mencegah aset tersebut berpindah lebih jauh.

CEO Circle, Jeremy Allaire, menyebut perusahaannya telah membekukan aset senilai lebih dari 800 juta dollar AS atau sekitar Rp 14,50 triliun melalui koordinasi dengan aparat penegak hukum. Adapun CEO Tether, Paolo Ardoino, mengatakan pihaknya membekukan lebih dari 1,5 miliar dollar AS. Laporan lain menyebut dana yang dibekukan Tether mencapai sekitar 1,56 miliar dollar AS atau kira-kira Rp 28,28 triliun.

Tanggapan Changpeng Zhao

Pendiri Binance, Changpeng Zhao, ikut berkomentar lewat unggahan di platform X. Ia menilai kejadian tersebut tampak seperti peretasan terhadap Binance. Meski tak lagi mengelola perusahaan secara langsung, Zhao menulis bahwa sebagai pemegang saham ia berharap seluruh dana pengguna dapat ditanggung sepenuhnya.

Zhao mendirikan Binance pada 2017 dan mundur dari kursi CEO pada 2023, setelah mengaku bersalah atas pelanggaran terkait kegagalan mencegah pencucian uang di platform itu.

Sampai berita ini ditulis, penyebab insiden masih diselidiki. Belum ada informasi terverifikasi mengenai metode yang dipakai pelaku ataupun jumlah akhir aset yang terdampak.

Sumber: Kompas.com

Share
Avatar of Muhammad Saputra
Written by