Skip to content
Breaking News

Pakai Earphone Seharian? Ini Batas Volume dan Durasi yang Aman bagi Telinga

Lifestyle 3 minutes read 11 views

Ilustrasi earphone nirkabel dan ponsel dengan gelombang suara serta indikator volume
Ilustrasi: penggunaan earphone dengan volume yang aman bagi telinga.

Earphone dan headphone sudah jadi teman sehari-hari. Alat ini dipakai untuk mendengarkan musik di perjalanan, mengikuti kelas atau rapat daring, sampai menonton video di ruang publik. Masalahnya, kebiasaan yang terasa sepele ini bisa menggerus kemampuan mendengar secara perlahan bila volume dan durasinya tidak dijaga.

Kerusakan pendengaran akibat suara keras umumnya tidak muncul seketika. Dampaknya berkembang bertahap, sehingga banyak orang baru sadar ketika gangguan sudah terasa.

Sel Sensorik Telinga yang Rentan Rusak

Seperti dirangkum Kompas.com dari Cleveland Clinic, paparan suara keras dalam waktu panjang dapat merusak sel sensorik di telinga bagian dalam. Sel-sel inilah yang bertugas mengubah gelombang suara menjadi sinyal listrik untuk dikirim ke otak.

Audiolog Valerie Pavlovich Ruff, AuD, menjelaskan bahwa sel tersebut bisa rusak karena musik keras atau suara bising yang didengar terlalu lama. Kerusakan akibat paparan berulang semacam ini dapat bersifat permanen.

Kenali Tanda Awal Gangguan Pendengaran

Ada beberapa sinyal yang patut diwaspadai sebagai gejala gangguan pendengaran akibat kebisingan, yaitu:

  • telinga terasa berdenging atau tinnitus;
  • sulit menangkap suara bernada tinggi, misalnya kicau burung;
  • suara di sekitar terdengar seperti teredam.

Jika gejala tersebut muncul, sebaiknya kebiasaan memakai perangkat audio dievaluasi dan pertimbangkan untuk memeriksakan diri ke tenaga kesehatan.

Patokan Volume dan Lama Pemakaian

Risiko kerusakan tidak hanya ditentukan oleh kerasnya suara, tetapi juga oleh lamanya telinga terpapar. Ruff menyarankan volume perangkat dijaga di kisaran 50 sampai 60 persen dari kapasitas maksimal. Pada level ini, mendengarkan musik kemungkinan masih aman dilakukan hampir sepanjang hari.

Lain cerita bila volume dinaikkan hingga sekitar 80 persen. Pada tingkat tersebut, Ruff menyarankan pemakaian dibatasi kira-kira 90 menit.

Sebagai pembanding, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan 80 desibel sebagai tingkat kebisingan yang masih dapat ditoleransi selama delapan jam di lingkungan kerja. Makin tinggi intensitas suara, makin singkat waktu paparan yang aman. Perangkat audio yang disetel pada volume maksimal bisa menghasilkan suara hingga 110 desibel, level yang berpotensi merusak pendengaran hanya dalam lima menit.

Tes Sederhana: Apakah Orang Lain Ikut Mendengar?

Ruff membagikan cara cepat untuk menilai apakah volume sudah berlebihan. Menurutnya, bila orang yang berjalan di dekat pengguna bisa ikut mendengar suara dari headphone, volume itu sudah terlalu keras.

Perangkat yang Tepat Ikut Membantu

Earphone yang tidak pas di telinga membuat suara lingkungan ikut masuk. Akibatnya, pengguna cenderung menaikkan volume untuk mengalahkan bising di sekitarnya, dan risiko cedera telinga bagian dalam pun meningkat. Beberapa hal berikut bisa dipertimbangkan:

  • Peredam bising (noise cancelling). Fitur ini mengurangi suara lingkungan sehingga volume tidak perlu dinaikkan tinggi. Meski begitu, gunakan di tempat yang aman karena fitur ini bisa membuat pengguna tidak mendengar tanda bahaya seperti klakson kendaraan.
  • Pembatas volume (sound limiter). Fitur ini menjaga suara agar tidak melewati batas yang berisiko bagi telinga.
  • Kualitas perangkat. Menurut Ruff, perangkat yang lebih baik umumnya menghasilkan suara lebih jernih, sehingga pengguna tidak perlu memperbesar volume demi kualitas suara yang diinginkan.

Pendengaran Tidak Bisa Diganti

Ruff mengingatkan bahwa menjaga pendengaran adalah urusan seumur hidup. “Anda hanya memiliki sepasang telinga seumur hidup dan itu tidak bisa diganti,” ujarnya, seperti dikutip Kompas.com.

Membiasakan diri mendengarkan musik dengan volume lebih rendah dan memberi jeda bagi telinga menjadi langkah sederhana untuk menjaga fungsi pendengaran tetap baik.

Sumber: Kompas.com

Share
Avatar of Muhammad Saputra
Written by