Orangtua yang memberi susu botol kepada bayi sambil berbaring telentang sebaiknya mulai mengubah kebiasaan itu. Posisi minum susu ternyata bisa ikut memengaruhi seberapa sering bayi mengalami infeksi telinga.
Infeksi telinga memang jauh lebih sering menyerang anak-anak dibanding orang dewasa. Data National Institute on Deafness and Other Communication Disorders (NIDCD) Amerika Serikat menyebut sekitar lima dari enam anak pernah mengalami setidaknya satu kali infeksi telinga sebelum menginjak usia tiga tahun.
Saluran Telinga Anak Masih Pendek dan Mendatar
Dokter spesialis THT dan implan koklea, Dr Rohit Udaya Prasad, menjelaskan bahwa penyebab utamanya terletak pada bentuk saluran Eustachius, yaitu saluran penghubung telinga tengah dengan bagian belakang hidung dan tenggorokan.
Pada anak, saluran ini relatif lebih pendek, lebih sempit, dan posisinya lebih mendatar dibanding milik orang dewasa. Akibatnya, cairan di telinga tengah lebih sulit mengalir keluar, sementara bakteri dan virus lebih gampang masuk, terutama saat anak sedang pilek atau flu.
Sistem kekebalan tubuh anak yang belum matang juga membuat mereka lebih rentan. Ketika terjadi infeksi saluran pernapasan, peradangan dan penumpukan cairan di sekitar saluran Eustachius bisa menjadi tempat bakteri berkembang biak.
Selain itu, adenoid, yakni jaringan kekebalan yang letaknya dekat saluran Eustachius, dapat menjadi tempat berkumpulnya bakteri yang kemudian menyebar ke telinga tengah.
Bayi Telentang Saat Minum Susu Lebih Berisiko
Menurut Dr Prasad, memberi susu botol ketika bayi dalam posisi benar-benar telentang membuat susu lebih mudah mengalir ke arah saluran Eustachius. Kondisi ini berpotensi menaikkan risiko infeksi.
Temuan serupa muncul dalam penelitian yang dimuat di Indian Journal of Child Health. Studi itu melibatkan 118 bayi berusia di bawah satu tahun yang mengalami infeksi telinga akut.
Hasilnya, bayi yang diberi susu dalam posisi telentang lebih sering mengalami infeksi telinga dibanding bayi yang minum dalam posisi lebih tegak. Kecenderungan ini paling terlihat pada bayi usia tujuh hingga sembilan bulan. Peneliti pun menyarankan agar kepala dan bahu bayi ditopang sehingga posisinya lebih tegak selama minum susu.
Faktor Risiko Lain yang Perlu Diwaspadai
Posisi minum susu bukan satu-satunya pemicu. Beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko infeksi telinga pada anak antara lain:
- infeksi saluran pernapasan akibat virus maupun bakteri,
- pembesaran adenoid,
- paparan asap rokok,
- sering terpapar kuman, misalnya di tempat penitipan anak.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mencatat dua bakteri yang paling sering menjadi biang infeksi telinga anak, yaitu Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae tipe nontypeable. Virus penyebab pilek juga bisa memicu kondisi ini.
Langkah Pencegahan dari Dokter
Untuk menekan risiko, Dr Prasad menganjurkan orangtua memberikan vaksin sesuai jadwal, ASI eksklusif hingga bayi berusia enam bulan, menjauhkan anak dari asap rokok, dan membiasakan anak mencuci tangan. Alergi pada anak juga perlu ditangani dengan tepat.
Ia menekankan pentingnya kebersihan bagi anak yang dititipkan di daycare karena mereka lebih sering berinteraksi dengan anak lain dan terpapar beragam kuman.
Tidak Semua Infeksi Perlu Antibiotik
Penanganan infeksi telinga bergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya. Pada kasus ringan akibat virus, anak biasanya cukup beristirahat, mendapat asupan cairan yang cukup, serta obat pereda nyeri seperti parasetamol atau ibuprofen sesuai anjuran tenaga medis.
Antibiotik umumnya baru dipertimbangkan untuk infeksi bakteri, terutama bila kondisinya berat atau gejala tidak membaik setelah 48 hingga 72 jam. Karena itu, orangtua diminta tidak mengobati sendiri dan tetap memeriksakan anak ke dokter agar penyebab dan tingkat keparahannya bisa dipastikan.
Sumber: Kompas.com
