Skip to content
Breaking News

PSSI Ancam Kurangi Poin Klub yang Gagal Redam Kerusuhan Suporter

Sport 3 minutes read 15 views

Ilustrasi tribun stadion sepak bola malam hari dengan lampu sorot dan peluit wasit di latar depan
Ilustrasi: tribun stadion sepak bola di malam hari.

Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) memberi sinyal keras kepada klub-klub yang gagal mengendalikan suporternya. Ketua Umum PSSI Erick Thohir membuka kemungkinan sanksi pengurangan poin bagi klub apabila keamanan dan ketertiban di sekitar pertandingan tidak bisa dijaga.

Pernyataan itu disampaikan Erick kepada wartawan di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, pada Rabu (28/10/2026) malam, seusai menghadiri pemutaran perdana film dokumenter perjalanan Timnas Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia 2026 yang berjudul The Longest Wait.

Belajar dari Kanjuruhan

Erick menegaskan bahwa federasi tidak akan menoleransi kerusuhan dalam sepak bola nasional. Ia kembali mengingatkan tragedi Kanjuruhan sebagai luka besar dalam sejarah sepak bola Indonesia yang tidak boleh terulang.

Menurut Erick, sikap tegas PSSI tidak hanya akan menyasar klub, tetapi juga suporter yang terlibat. Sanksi pengurangan poin, katanya, menjadi opsi yang memang harus dijalankan bila situasi di lapangan tidak bisa dijaga tetap kondusif. “Ya, kita PSSI keras,” ujar Erick, seperti dikutip Kompas.com dari Antara.

Rentetan Insiden Suporter

Ancaman sanksi ini muncul setelah serangkaian insiden yang melibatkan suporter terjadi di sejumlah daerah dalam beberapa waktu terakhir. Salah satunya adalah kericuhan pada laga Persita Tangerang melawan Persija Jakarta di Stadion Internasional Banten.

Kasus lain yang menjadi sorotan adalah meninggalnya seorang suporter Persib Bandung akibat penyerangan seusai pertandingan Persib melawan Garudayaksa FC. Rangkaian kejadian tersebut mendorong PSSI meminta operator liga dan klub mengambil langkah tegas agar peristiwa serupa tidak terulang.

Suporter Tamu Kembali Diizinkan

Salah satu langkah pencegahan yang disebut Erick adalah pembatasan kehadiran suporter tim tamu pada pertandingan tertentu. Ia mengingatkan bahwa selama sekitar tiga tahun terakhir laga di Indonesia berlangsung tanpa penonton tandang, dan baru musim ini FIFA memberikan kelonggaran.

Karena itu, Erick menilai kelonggaran tersebut perlu dijaga bersama oleh liga dan klub. Tanggung jawab menjamin keselamatan penonton, menurut dia, berlaku bukan hanya selama suporter berada di dalam stadion, tetapi juga dalam perjalanan pulang setelah laga usai.

Koordinasi dengan Kapolri

Di luar urusan pertandingan, Erick mengungkapkan bahwa dirinya telah bertemu secara tertutup dengan Kapolri untuk membahas penanganan tindak kriminal yang terjadi di luar stadion. Ia membedakan dua ranah tersebut: kejadian di dalam lapangan menjadi urusan federasi dan klub, sedangkan aksi kriminal di luar lapangan ditangani aparat.

Erick mengapresiasi kepolisian yang dinilainya bergerak cepat menuntaskan sejumlah kasus kekerasan, bahkan ada pelaku yang ditangkap dalam waktu 1×24 jam. PSSI dan Polri, lanjutnya, kini memperkuat koordinasi untuk menindak pelaku kejahatan di lingkungan sepak bola.

Hasil pembicaraan dengan Kapolri itu direncanakan diumumkan dalam satu hingga dua pekan ke depan. Erick menyebut komitmen kedua pihak solid dalam menindak pelaku kriminal di luar pertandingan.

Ujian bagi Klub dan Liga

Ancaman pengurangan poin menjadi pesan bahwa keamanan pertandingan kini ikut menentukan nasib klub di klasemen. Dengan dibukanya kembali pintu bagi suporter tamu, klub dan operator liga dituntut memastikan pengamanan yang lebih ketat, mulai dari pengaturan kedatangan rombongan suporter hingga pengawalan setelah laga, agar kelonggaran dari FIFA tidak berakhir sia-sia.

Sumber: Kompas.com

Share
Avatar of Muhammad Saputra
Written by