Skip to content
Breaking News

Laba Vale Indonesia Melonjak 180 Persen, Ditopang Penjualan Bijih Nikel Bahodopi dan Pomalaa

Bisnis 3 minutes read 16 views

Ilustrasi truk tambang di area tambang nikel terbuka dengan tumpukan bijih dan grafik batang yang naik
Ilustrasi: aktivitas tambang nikel dan grafik kinerja keuangan yang meningkat.

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) membukukan laba bersih 147,12 juta dollar AS sepanjang Januari hingga September 2026. Angka itu melonjak 180,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, ketika laba emiten nikel tersebut masih berada di level 52,45 juta dollar AS.

Lonjakan laba ini terungkap dalam laporan kinerja kuartal III-2026 yang dirilis perseroan pada Kamis (29/10/2026). Mesin utamanya adalah pendapatan yang terus tumbuh serta tambahan penjualan bijih nikel dari dua blok tambang baru, yakni Bahodopi dan Pomalaa.

Pendapatan dan EBITDA Ikut Terkerek

Selama sembilan bulan pertama 2026, pendapatan INCO tercatat 896,07 juta dollar AS, naik 27 persen secara tahunan dari 705,39 juta dollar AS. EBITDA perseroan tumbuh lebih kencang, yaitu 78,9 persen menjadi 297 juta dollar AS dari sebelumnya 166 juta dollar AS.

Jika dilihat per kuartal, pendapatan kuartal III-2026 mencapai 353 juta dollar AS atau naik 21,6 persen dibandingkan kuartal II-2026 yang sebesar 290,41 juta dollar AS. Meski begitu, laba bersih kuartal ketiga justru menyusut 29,7 persen secara kuartalan menjadi 42,75 juta dollar AS dari 60,77 juta dollar AS.

Pengiriman Nikel Matte Naik, Harga Melemah

Dari sisi operasional, pengiriman nikel matte pada kuartal III-2026 mencapai 20.158 ton, naik 44,7 persen dari 13.932 ton pada kuartal sebelumnya. Produksi pada periode yang sama tercatat 18.341 ton, tumbuh 13,5 persen dibandingkan 16.153 ton pada kuartal II.

Namun, harga realisasi rata-rata nikel matte turun 4,8 persen menjadi 14.053 dollar AS per ton dari 14.765 dollar AS per ton. Secara kumulatif, produksi nikel matte hingga September 2026 sebanyak 48.114 ton, lebih rendah 12,5 persen dibandingkan 54.975 ton pada periode yang sama tahun lalu.

Bahodopi dan Pomalaa Jadi Penopang Baru

Penjualan bijih nikel dari Blok Bahodopi dan Pomalaa menjadi faktor pembeda tahun ini. Pada kuartal III-2026, total penjualan bijih dari kedua blok itu mencapai 1,73 juta wet metric ton (wmt).

Komposisinya bergeser cukup tajam. Penjualan dari Bahodopi turun 61,4 persen secara kuartalan menjadi 415.000 wmt, sedangkan Pomalaa melonjak 165,2 persen menjadi 1,31 juta wmt dari 495.601 wmt.

Secara kumulatif hingga September 2026, penjualan bijih dari Bahodopi mencapai 2,38 juta wmt atau naik 284,7 persen secara tahunan. Adapun Pomalaa membukukan 1,90 juta wmt, melesat 581,6 persen dibandingkan 278.745 wmt pada periode yang sama tahun lalu.

Biaya Energi Menekan Margin

Di balik kenaikan volume, beban biaya ikut meningkat. Biaya tunai penjualan nikel matte pada kuartal III-2026 naik 4 persen menjadi 10.404 dollar AS per ton dari 10.005 dollar AS per ton, seiring bertambahnya biaya dan konsumsi energi.

Tekanan itu terlihat pada EBITDA kuartal III-2026 yang turun 12,9 persen secara kuartalan menjadi 101 juta dollar AS dari 116 juta dollar AS. Perseroan menyebut kenaikan volume produksi dan penjualan, ditambah efisiensi operasional, membantu menjaga kinerja di tengah tekanan harga nikel dan biaya energi.

Kas Bertambah, Proyek HPAL Pomalaa Berlanjut

Posisi kas dan setara kas Vale Indonesia per 30 September 2026 mencapai 247,31 juta dollar AS, naik 123,5 persen dari 110,66 juta dollar AS pada akhir Juni 2026. Pada kuartal III, perseroan juga menarik pinjaman bank 175 juta dollar AS untuk kebutuhan belanja modal dan proyek strategis.

Belanja modal sepanjang kuartal III-2026 sekitar 95 juta dollar AS. Sementara itu, pembayaran untuk pembelian aset tetap hingga September 2026 mencapai 350,16 juta dollar AS, naik 5,6 persen dari 331,44 juta dollar AS setahun sebelumnya.

Untuk hilirisasi, INCO melanjutkan pengembangan proyek high-pressure acid leach (HPAL) Pomalaa. Perseroan mencatat penyelesaian mekanis pertama untuk Line 1 dan Line 2 proyek tersebut sebagai salah satu tonggak penting.

Memasuki 2027, Vale Indonesia menyatakan akan fokus mengoptimalkan produksi nikel matte, memperbesar kontribusi penjualan bijih nikel dari area pertumbuhan, dan melanjutkan proyek-proyek hilirisasi strategisnya.

Sumber: Kompas.com

Share
Avatar of Muhammad Saputra
Written by