Skip to content
Breaking News

Laba Energi Mega Persada Naik 31 Persen Jadi Rp 1,26 Triliun, Didorong Harga Minyak

Bisnis 3 minutes read 15 views

Ilustrasi anjungan pengeboran minyak lepas pantai saat senja dengan grafik batang yang naik
Ilustrasi: anjungan migas lepas pantai dan grafik kinerja keuangan yang meningkat.

PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) menutup sembilan bulan pertama 2026 dengan kinerja yang lebih tebal. Emiten minyak dan gas bumi (migas) ini mencatat laba bersih 72 juta dollar AS, setara sekitar Rp 1,26 triliun, sepanjang Januari–September 2026. Angka itu tumbuh 31 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, ketika laba bersih perseroan berada di kisaran Rp 914 miliar.

Kenaikan laba ditopang oleh penjualan yang ikut meningkat. Penjualan bersih ENRG naik 18 persen menjadi 426 juta dollar AS atau sekitar Rp 7,42 triliun, dari Rp 5,93 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.

Laba Usaha dan Margin Ikut Membaik

Bukan hanya laba bersih yang tumbuh. Laba usaha perseroan melonjak 44 persen secara tahunan, lebih cepat daripada pertumbuhan penjualannya. Dampaknya terlihat pada margin operasional, yang membaik menjadi 37 persen dari sebelumnya 30 persen.

Dengan kata lain, dari setiap pendapatan yang masuk, porsi yang tersisa sebagai keuntungan operasional kini lebih besar dibandingkan tahun lalu. Selisih antara pertumbuhan penjualan (18 persen) dan laba usaha (44 persen) menunjukkan perseroan berhasil memperbesar keuntungan lebih cepat daripada pertambahan pendapatannya.

Harga Minyak Jadi Pendorong, Produksi Gas Turun

Dari sisi operasional, gambaran kinerja ENRG cukup beragam. Produksi minyak kotor perseroan naik 6 persen menjadi 8.894 barrel per hari pada Januari–September 2026, dibandingkan 8.387 barrel per hari pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sebaliknya, produksi gas kotor justru menyusut 13,8 persen menjadi 190,4 juta kaki kubik per hari, dari 220,9 juta kaki kubik per hari setahun sebelumnya.

Penurunan volume gas itu tertutup oleh harga jual yang lebih tinggi. Harga jual rata-rata minyak ENRG melonjak 33,1 persen menjadi 94,92 dollar AS per barrel. Harga jual rata-rata gas juga naik, meski lebih tipis, yakni 4,3 persen menjadi 7,08 dollar AS per ribu kaki kubik.

Temuan Minyak Baru di Tiga Blok

Direktur Utama sekaligus CEO ENRG, Syailendra S. Bakrie, menyebut perusahaan saat ini memusatkan perhatian pada upaya memproduksikan temuan-temuan dari aset migas yang dimiliki. “Fokus kami saat ini adalah untuk memproduksikan beberapa temuan dari aset-aset migas kami,” katanya dalam keterangan pers, Kamis (29/10/2026).

Dalam 18 bulan terakhir, ENRG melaporkan tiga temuan minyak, yakni:

  • sekitar 31 juta barrel di Blok Malacca Strait;
  • sekitar 20 juta barrel di Blok Bentu;
  • sekitar 15 juta barrel di Blok South CPP.

Jika dijumlahkan, ketiga temuan tersebut mencapai sekitar 66 juta barrel. Perseroan sudah mulai memproduksikan temuan di Blok Bentu dan Blok Malacca Strait, sementara temuan di Blok South CPP direncanakan segera menyusul.

Membidik Akuisisi Aset Baru

Selain mengandalkan aset yang sudah ada, ENRG juga membuka peluang pertumbuhan lewat akuisisi. Syailendra mengatakan perseroan berupaya melanjutkan ekspansi bisnis dengan mengakuisisi aset-aset baru, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Perseroan belum merinci aset atau wilayah yang tengah dibidik. Namun, kombinasi antara temuan minyak yang mulai berproduksi dan rencana akuisisi menjadi dua jalur utama yang disiapkan ENRG untuk menjaga laju pertumbuhan setelah kinerja sembilan bulan pertama 2026 yang membaik.

Bagi pelaku pasar, laporan ini memberi gambaran bahwa kenaikan harga jual minyak menjadi salah satu faktor penting di balik lonjakan laba perseroan tahun ini, di tengah produksi gas yang masih tertekan.

Sumber: Kompas.com

Share
Avatar of Muhammad Saputra
Written by